Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Sangkan Paraning Dumadi

Purwåning Dumadi and Sangkaning Dumadi 1.

Purwåning Dumadi yang merupakan ajaran Sastrå Harjendrå, adalah pemahaman suatu keadaan sebelum segalanya ‘ada’ sebagai suatu ‘wujud’. Perwujudan alam semesta sebelum manusia ada, tidaklah pernah ketahui, maka disebut ‘alam gung lewang-lewong, suwung nanging hånå’ atau ‘alam yang tak bisa digambarkan, kosong tetapi ada’. Kemudian segalanya itu menjadi ‘ada’, setelah direnungkan oleh manusia.



Manusia merenungkan keberadaannya, dari mulai bayi hingga kematiannya. Seseorang lahir oleh karena adanya ‘båpå minongko dadi lêlantaran lan biyung minongko dadi papan’ artinya ‘ada’ karena ayah dan ibu sebagai perantara Tuhan. Atau ‘ada’nya manusia itu karena reaksi bersatunya daya yang bersifat positif dan negatif, lingga dan yoni, ayah dan ibu, lelaki dan perempuan dan seterusnya.

Manusia (bayi) itu dilengkapi dengan perabot, rågå – indrå – råså.

1. Rågå dalam catur hanasir (empat unsur), dipahami bahwa pada alam semesta dan di dalam diri manusia itu ada anasir bahni, bantålå, barunå dan marutå atau unsur api, bumi, air dan angin.
Tatanan ‘catur hanasir’ tunduk oleh suatu kuasa yaitu Tuhan Sang Pencipta yang disebut Sang Hyang Murbèng Dumadi, sedangkan ‘catur hanasir’ dalam diri manusia dikendalikan oleh ‘aku’ yang merupakan pantulan Sang Hyang Murbèng Dumadi, ‘aku’ dalam Sastra Harjendrå disebut roh suci. Sedangkan hubungan aku dan Sang Hyang Murbèng Dumadi disebut sebagai suksmå sêjati yang digambarkan seperti laba-laba yang bergelantung terhubung oleh tali ke pusat jaring sarangnya, dimana laba-laba ibarat roh suci sedang tali yang menuju sarangnya adalah suksmå sêjati, pusat sarangnya adalah Tuhan dengan kekuasaanNya.

2. Indrå dalam pemahaman catur pakarti, disebut dalam konsep sadulur papat kalimo pancêr. Dimana pun ‘aku’ berada maka secara keindraan manusia berada ditengah kiblat empat penjuru yaitu Utara, Selatan, Timur dan Barat, kakinya menginjak bumi dan dipayungi oleh angkasa. Indra dalam pemahaman ‘penglihatan’ menjadi alat pengamat dan melahirkan konsep-konsep setelah melalui perenungan-perenungan yang disebut pakarti.

Manusia dapat memikirkan Tuhannya, menyimpulkan Tuhannya dari melihat dan menghayati alam semesta dan kehidupan serta kejadian-kejadian yang dialaminya, melalui tiga kesadaran yaitu Kesadaran Raga, Kesadaran Pikiran dan Kesadaran Rasa.

Adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah dalam bentuk ‘ke-imanan’, sedangkan hubungan antara manusia dengan manusia melahirkan adanya komunikasi dalam bentuk ‘bahasa’. Hubungan komunikasi manusia dengan manusia merupakan upaya ‘saling mengerti’ yang kemudian melahirkan bahasa baku dalam suatu lingkungan, suku bangsa ataupun wilayah negara.

Bahasa lisan itu kemudian dibuat menjadi catatan berupa kode-kode semiotika yang disebut ‘huruf’ atau ‘aksårå’.
Maka lahirlah huruf-huruf itu, termasuk yang dimiliki oleh orang Jawa. Berbagai versi legenda bisa dijumpai, dan hampir seluruhnya menggambarkan kelahiran aksårå Jåwå berkaitan dengan pedoman-pedoman hidup orang Jawa berupa falsafah Jawa. Huruf Jawa atau aksårå Jåwå yang berupa kode-kode semiotika memiliki makna ganda, yaitu selain sebagai alat komunikasi juga sebagai simbol-simbol untuk mengutarakan sesuatu yang berhubungan dengan ‘kerahasiaan Tuhan’.

Kerahasiaan Tuhan itu selalu melibatkan råså. Dalam sebuah ungkapan kata yaitu di-rasa-ake....yang artinya dirasakan dan dipikirkan sehingga menjadi sebuah pakarti.

3. Råså menjadi perangkat untuk mengetahui sesuatu dan menghasilkan pakarti atau konsep dari hal-hal yang tidak wujud, perangkat itu disebut råså sejati.

Sangkaning Dumadi merupakan penalaran dari tujuan hidup hingga manusia menjumpai kematian. Dalam aksårå Jåwå bisa dimengerti bagaimana sebuah tatanan hidup manusia merupakan cakra manggilingan atau siklus alam, maka ajaran kejawen Sastrå Harjendrå, memegang teguh ‘inti-sari’ dari aksårå Jåwå yang merupakan penggambaran keberadaan manusia dalam mengerti proses samadhi oleh karena setiap manusia itu memiliki naluri untuk mencapai manunggaling kawula lan Gusti (bersatunya Tuhan dengan manusia).

Hå – Hurip kan cahyaning Gusti kang Murbèng Dumadi; artinya hidup manusia dari proyeksi sinar ‘langgêng’ yang merupakan alam terang tanpa batas, tanpa ada sumbernya, tetapi yang ada hanya keteduhan. Dalam bahasa Jawa: “alam padang kang tanpå winatesan, tanpå hånå sumburing, ananing mung kêpenak”.
Nå – Nur hurip iku cahyo wêwayangan; Nur hurip atau cahaya hidup yang disebut roh suci merupakan sinar Tuhan yang saling menyinari dan saling berkebalikan. Dalam bahasa Jawa: rot-sinorotan lan lik-winalikan.
Cå – Ciptå, Råhså karså kuwåså; artinya apa yang ada dalam alam semesta ini adalah berada dalam kuasaNya. Begitu pula di dalam diri manusia, kesadaran pikiran dan kesadaran rasa akan berjalan sesuai dengan kodratnya.
Rå – Råsa kuwåså kang tanpå karså; ‘Rasa’ yang tak bisa digambarkan karena merupakan kuasa yang tidak mempunyai kehendak, jagad sudah tergelar itu keberadaannya hanya dapat dilihat dan dirasakan.
Kå – Kårså kuwåså têtungguling pangrèh; Semua terjadi, oleh karena ada yang mengatur yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Esa dalam bahasa Jawa disebut Sang Hyang Murbèng Dumadi.

Då – Dumadi tanpå kinardi; Terjadi tanpa ada yang membuat. Artinya semua kejadian ini terjadi bukan manusia yang menciptakan, tetapi kehendak Tuhan. Nyawa manusia ‘ada’ dengan sendirinya, artinya nyawa itu secara kodratnya diciptakan oleh Tuhan.
Tå – Tetep jumênênging Dzat kang tanpå niat; Tetap merasakan hidup/Dzat yang tidak mempunyai niat apapun.
Så – Sifat hånå tanpå wiwit; Keberadaan sifat-sifat Tuhan, tidak diketahui kapan dimulainya.
Wå – Wujud hånå tan kênå kinirå; Wujud ada tetapi tidak bisa digambarkan, karena wujud yang dimaksud itu adalah pribadi atau ‘Aku’.
Lå – Lali eling wêwatêsane; Batas dari lupa dan ingat. Merupakan pintu memasuki alam Tuhan atau ‘gaib’ yang hanya bisa dicapai manusia pada kondisi saat menemukan batasnya ingat dan lupa (meditasi).

På – Papan kang tanpå kiblat; Berada pada suatu tempat yang tak diketahui kiblatnya lagi dimana arah Utara, Selatan, Timur dan Barat.
Dhå – Dhuwur wêkasanê êndèk wiwite; Segala pencapaian kesadaran tinggi selalu diawali dari bawah.
Jå – Jumbuhing kawulå Gusti; Menyatunya manusia dengan Tuhan, yaitu suatu keadaan dari seseorang yang telah menemukan hakekat kebenaran, yang bersifat tetap, kekal, tidak lagi dibatasi ruang, waktu dan jarak. Kekal dalam persekutuan dengan Tuhan.
Yå – Yèn rumongso tanpå karså; Merasa tercapai dapat bersekutu dengan Tuhan tetapi tanpa kemauan, karena kemauan adalah ‘pikiran’. Pada saat manusia memiliki kemauan berarti ‘pikiran’ sudah mulai bekerja.
Nyå – Nyåtå tånpå måtå, ngêrti tanpa diwuruki; Nyata tanpa melihat dan mengerti tanpa diajari. Hal ini disadari karena sumbernya hanya satu yaitu Tuhan yang maha kuasa.

Må – Mati biså bali; Mati bisa kembali; pengertian mati disini adalah ketika manusia melepas segala atributnya (berdoa), tidak punya kemauan dalam kesunyiannya (Samadhi), maka ketika sudah kembali lagi akan membutuhkan sarana untuk kehidupannya, kembali memiliki kemauan, keterikatan dengan kedunawian seperti merasa lapar, haus, penat, dan seterusnya.
Gå – Guru sêjati hang wuruki; Guru sejati yang menuntunnya. Guru sejati merupakan ‘Aku’ yang akan menjadi penggerak yang menuntun segala tingkah laku manusia.
Bå – Båyu sêjati handalani; Oleh adanya Båyu sêjati. Båyu adalah angin atau udara pernafasan yang menjadikan manusia hidup. Hubungan manusia dengan Tuhan hanya ada melalui napas atau bayu sêjati. Sejak bayi lahir yang diawali oleh tangisannya (melepas dan menarik nafas), merupakan permulaan bekerjanya bayu sêjati ini, sehingga manusia itu hidup.
Thå – Tukul såkå niyat; Tumbuh dari niat, oleh karena adanya kesadaran manusia memiliki kemauan mencari hakekat kebenaran hingga akhir hayatnya.
Ngå – Ngracut busananing manungså; Melepas perabot manusia, yaitu melepas pelengkap yang ada pada badan wadag manusia, menemukan kematiannya dengan kesadaran tingginya. Dalam aksårå Jåwå dimulai dari sifat ikhlas yaitu huruf “Hå”nglêgêno (tanpa tambahan tanda baca) hingga menjadi “Hah” yaitu huruf “Hå” yang diwignyan (ditambah salah satu jenis tanda baca), simbol penggambaran nafas terakhir yang dihembuskan sebagai kematian yang sempurna.

 



Purwåning Dumadi and Sangkaning Dumadi 2.

Jika pada pemaknaan “Aksårå Jåwå” dari huruf ‘Hå’ sampai huruf terakhir ‘Ngå’ ternyata pemaknaan itu merupakan pemahaman ‘Hidup’ yang analog dengan pemahaman proses pencapaian pencerahan dalam ‘Samadhi’, yang merupakan essensi dari pemahaman tentang ‘Tuhan Sang Pencipta’. Konsep itu merupakan hasil observasi ‘indra’ oleh karena manusia dilengkapi kesadaran raga, kesadaran pikiran dan kesadaran rasa. Di dalam kondisi keseharian manusia memiliki tiga (3) kesadaran yang masing-masing bergerak dengan siklus yang tidak teratur.

Sebagai contoh sederhana:
1. Saat saya duduk di kursi taman sambil membaca sebuah buku, maka pikiran saya akan terpaku pada buku itu, kondisi ini disebut konsentrasi dalam konteks kesadaran pikiran. Dalam suasana yang dikuasai oleh kesadaran pikiran itu, tiba-tiba serangga menggigit telinga saya sehingga hilanglah kesadaran pikiran saya beralih kepada kesadaran raga, telinga yang disakiti oleh gigitan serangga itu saya raba. Sebentar kemudian di depan saya ada seorang anak kecil, ia tampak lapar, lusuh dan seperti pengemis sehingga timbul rasa iba saya untuk menanyakan keadaannya dan menolong dirinya, rasa iba yang saya alami saat seperti ini adalah karena saya telah masuk pada kondisi kesadaran rasa.

Ketiga kesadaran itu terus bergerak berpindah-pindah tidak beraturan dalam kehidupan manusia sehari-hari....

2. Saya memberi perumpamaan dengan tiga gerbong kereta api yang berjajar. Seorang penarik karcis akan memeriksa karcis penumpang dari gerbong satu ke gerbong berikutnya secara bergantian. Ia tidak bisa sekaligus memeriksa ketiga gerbong itu. Secara faktual bekerjanya selalu bergantian tunduk pada siklus yang beraturan. Sedangkan pada cara bekerja tiga (3) kesadaran itu berbeda, tidak beraturan misalnya penarik karcis datang dari gerbong ketiga langsung ke gerbong pertama atau dari gerbong kedua ia menuju kembali ke gerbong pertama dst. Jika ketiga gerbong itu adalah ibarat tiga kesadaran, maka ketiga kesadaran itu terus bergerak berpindah-pindah tidak beraturan dan dengan kecepatan tinggi dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Kesadaran adalah suatu alat yang ada pada manusia, ia ibarat cermin untuk mengetahui siapa “aku” dan siapa “Tuhan”. Maka dalam ajaran ‘kêjawèn’ ketiga kesadaran ini sangat berperan dalam olah batin menuju kesucian. Mendekat kepada Tuhan yang disebut ‘bersamadhi’.

Prinsip dasar ‘samadhi’ atau ‘sêmèdhi’ adalah bagaimana menyatukan ketiga kesadaran ini untuk mencapai pencerahan, dalam bahasa Jawa disebut “Triwikråmå”.

Menjelaskan istilah “Triwikråmå” dalam suatu tata cara sêmèdhi Kêjawèn, ajaran Sastrå Harjendrå, kata ‘Tri’ artinya tiga (3) dan ‘Wikråmå’ artinya kawin atau bersatu. Maka kata Triwikråmå artinya tiga kesadaran yang disatukan, yakni disatukannya Kesadaran Raga, Kesadaran Pikir dan kesadaran Rasa.

Dalam ajaran Sastrå Harjendrå apa yang disebut ‘sêmèdhi’ adalah bertujuan mencapai keadaan triwikrama, sedang jika hanya berada dalam kondisi bersatunya dua (2) kesadaran (Kesadaran Pikir dan Kesadaran Raga) tahap itu disebut meditasi. Dalam bahasa Jawa disebut : Layap-layap ing Ngaluyup (antara sadar dan tidak sadar). Jadi meditasi dan ‘sêmèdhi’ itu berbeda...

Lalu apakah perbedaan itu menjadi suatu yang mempengaruhi kualitas jika dipraktekkan?

Meditasi lebih cenderung akan mendapatkan suatu kesegaran, pemulihan pada fisik yang lelah, terjadi perbaikan sistem aura, dan merendahkan tekanan-tekanan pikiran (stress). Sedangkan ‘sêmèdhi’ adalah proses yang juga melalui kondisi meditasi (Layap-layap ing Ngaluyup) tetapi kemudian meningkat lebih tinggi (memasuki tahap ‘sêmèdhi’) mencapai ‘pencerahan’. Dalam bahasa Jawa disebut “Manunggaling kawula lan Gusti”.

Jika tercapai situasi triwikrama, maka apa yang tubuh kita miliki semuanya non-doing/non-agir tidak ada yang bekerja. Kecuali suksmå sêjati yang bekerja menghantarkan ribuan daya atau sinyal Illahi dalam kecepatan tinggi masuk ke dalam roh suci. Ribuan daya itu akan memenuhi bawah sadar (onder-bewuste; bahasa Belanda), kemudian akan menjadi bahan (raw material) yang setiap saat digunakan menjadi logika-logika tentang ‘kebenaran’. Daya itu akan bergerak cepat dan sesuai dengan kebutuhannya, menjadi konsep-konsep kehidupan yang “benar” (pakarti).

Tulisan saya ini adalah sebuah upaya penjabaran bahwa untuk hidup menuju kesempurnaan diperlukan adanya aktifitas kerohanian. Perlu adanya tempat pertemuan untuk pembimbingan agar tidak terjadi kesalahan. Dalam ajaran Sastra Harjendra, råså sejati terus diasah dengan melakukan ‘sêmèdhi’, logika justru menjadi sebuah tempat penampungan saja, logika akan menjadi sebuah aktifitas penalaran jika bekerja bersama råså. Maka jika seseorang selalu menggunakan logika akan terjadi suatu kelelahan pikiran, dan ini bisa berbahaya walau pun orang itu melakukan ‘sêmèdhi’ rutin. Apalagi hanya melakukan meditasi yang jika diakui secara jujur, kenyataannya adalah permainan logika saja....

Rahayu Selamet. (TJ)